About

22. Time waster | Product Designer | Graphic Designer

Search for content


(via txchnologist)


Virtual Cadavers Offer New Opportunities In Medicine

Computer-generated models are starting to let researchers and students peer into the body without needing a real human stretched out before them.

Virtual dissection tables have been built at places like Stanford and the University of Calgary. Now University of Michigan computer scientists and biologists have taken the technology another step forward, using projectors, joysticks and 3-D equipment to build a floating holographic human that users can dissect, manipulate and put back together as they wish.

Read more and see the video below.

Read More

(Source: oopsinsurance)

Gemes

Kutunggu oh kutunggu. Saya sedang menunggu-nunggu siapapun dia yang mau melakukan hal (yang terlihat sia-sia) tapi ada manfaatnya. Saya menunggu-nunggu siapapu dia, khususnya para desainer komunikasi visual muda darimanapun dia berasal,  yang mau menunjukkan tajinya di pemilu RI tahun ini. Beberapa sih sudah mulai berani angkat suara namun hanya sebatas lempar-lemparan komentar di dunia maya. Bukan benar bukan salah, tapi kalau sudah tau ada yang salah, lantas kenapa diam saja?

Ketika yang muda-mudanya semakin enggan campur tangan soal politik, caleg juga semakin ogah nge-hire seorang desainer grafis/ilustrator/tim kreatif tertentu. “Daripada duitnya kepake bayar tim kreatif yang pasang tarif tinggi, mending gua ke tukang warnet aja. Toh sama aja cuman masang foto gua segede waladdolin tambah kata-kata persuasuf.” Mungkin begitu kali ya pemikirannya bapak-ibu caleg.

Saya kira ada 2 alasan mengapa baliho pemilu seperti ini.

Pertama, lebih mending kuantitas daripada kualitas. Daripada buat baliho/spanduk/pamflet keren-keren tapi dikit, mending alay gitu aja tapi banyak, dengan dana kampanye yang sama. Biar jangkauan penyebarannya luas. Efektif? Ya. Elektabilitasnya bisa dibilang lebih tinggi dibandingkan caleg lain yang publikasinya tidak jor-joran.

Kedua, para caleg ini bisa diperkirakan umurnya sekitar 30-50 tahun which is dulu ketika mereka masih usia muda, mereka hidup di era 1960-1980an kira-kira. Nah pada masa itu anak mudanya seperti apa toh? budayanya yang paling populer? Ya? 1 kata. Dangdut. Mungkin begitulah paham kerenisme bawaan masa muda mereka — yang ketika umur segitu — masih dianggap keren. Baliho dangdut, warna dangdut, marketingnya pake dangdut. Jadi jangan komplen kalau nanti presiden adalah raja dangdut. 

***

Inilah Jepang. Saya diberitahu kawan di facebook. Ini adalah kampanye majelis dewan rendah kabupaten. Formatnya sudah ditentukan. Tertib, satu kandidat satu poster. Hanya 3 minggu terpasang, setelah itu bersih kembali. Hemat dan bersahaja. Okelah jangan membandingkan kampanye Endonesa dengan negara lain. Tapi bandingkan saja orang-orangnya. Sama kan? Itu juga ada caleg yang berkumis tapi posternya tetep kece. Ada yang ngumbar janji-janji juga kok. Sama ah. Sama-sama makan nasi.

Masih menunggu-nunggu gebrakan Re-Branding Poster Kampanye Caleg atau Logo Partai dari pihak-pihak tukang iseng lain yang kurang kerjaan. Karena siapa juga yang mau buat-buat rebranding parpol/caleg tanpa dibayar. Buang waktu. Saya ingin, tapi suka disangka ngambil lapak orang jadi silakan kepada pihak-pihak yang terkait di bidangnya. Pasti bakal wow. Atau sudah ada?

***

Cuap-cuap saya ini mah. Segala kesempurnaan milik Tuhan, dan segala kekurangan milik bunda Dorce.

***

Iseng-iseng buat pengganti kalender di rumah yang tempo hari dikasih salah satu calon. Buat si ibu si nenek yang gak tau banyak siapa-siapa yang mau dipilih. 


(via gaksdesigns)

gaksdesigns:

Artist Joel Rea
O
il on Canvas 

hoooollly cooow..

The Golden Circle

Ekspektasi bisa diartikan sebagai harapan besar yang dipercayai bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Ada yang mengkategorikannya ke dalam beberapa level. Ekspektasi tinggi dibilangnya muluk. Ekspektasi rendah dibilangnya hopeless. Jadi medioker terlihat aman-aman saja. Namanya orang cari aman ya mainnya juga gak mau take a risk. Ada yang ekspektasinya naik-naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali. Dia bisa berasumsi kalau idenya brillian namun dengan rencana orang nekat. Ada yang bilang : too much expectation will kill you. Ya bisa benar, kalau cuma berspekulasi. Bisa gak akan terbunuh juga kalau pake strategi. Tapi bukan juga berlama-lama menyusun strategi, rich people difficult.

Ada bahasan menarik dari Simon Sinek mengenai The Golden Circle. Apa itu? Bukan..bukan ngebahas cincin kawin. Kalau boleh saya ilustrasikan kejadian yang umum terjadi.

Si Gaston tergabung di dalam satu divisi publikasi acara. Dia diminta ngasih ide buat strategi mempublikasikan acara itu supaya acaranya dikenali banyak orang. Si Gaston lalu ngasih ide buat poster kayak warna parpol. Mencolok mata, mentereng, memekakkan telinga. Tujuannya supaya jadi perhatian. Dia berpedapat kalau warna yang cerah membuat mata reflek menoleh pada sumber warna cerah itu. Teett~. Matahari juga cerah kali, ada orang yang ngeliatnya lama-lama? Realitanya, acaranya gak banyak dikenal, posternya dicorat-coret pylox tulisan geng motor.

image

Coba kalau media publikasinya edibel. Jadi posternya dari agar-agar Swallow Globe yang dicetak, dibungkus plastik kedap udara, sebar!

Malah ada baiknya, bukan publikasinya yang dibuat strateginya. Tapi konsep acaranya itu sendiri membuat orang merasa ingin datang atau tidak? Apakah acara tersebut memberikan pengalaman tak terlupakan kepada hadirin? Atau hanya untuk menunjukkan eksistensi suatu golongan saja? Ini opini saja. Indikator sukses tidaknya satu acara itu membuat pengunjungnya ingin datang lagi jika acara tersebut diadakan kembali di beberapa bulan/tahun mendatang.

***

Kasus kedua masih dalam ranah kepanitiaan. (Berhubung ini marak terjadi di kalangan aktivis muda kampus). Umumnya sebuah kepanitiaan membutuhkan sumber dana untuk melancarkan kegiatannya. Maka divisi Dana Usaha ini yang paling kasihan direpotin. Orang-orang di sini umumnya dipilih bukan karena kreatif dan persuasif sama orang, tapi yang dipilih adalah orang yang dikenal suka berjualan. Si Jupe misalnya. Sebelum jadi ketuanya, dia berjualan barbel di kampus. Waktu jadi kadivnya, dia diminta ngumpulin dana sekian milyar. Karena dulunya akrab bergaul sama barbel, si Jupe gak punya kreativitas. “Yaudah jualan barbel bekas aja yuk di gasibu. Banyak orang lewat. Dateng subuh, masih seger.” (beli sih kagak. Lagian apa hubungannya barbel bekas sama kesegaran pagi)


image

Saya heran kenapa si Jupe gak buat bikin brand yang mudah diingat orang. Misalnya Barbel Shop gitu. Jadi selain jual barbel bekas, jia buka lapak cukur rambut. Orang yang dicukur disana sambil angkat barbel. Slogannya : Rambut Beres, Bodi Hercules. 

***

Simon Sinek ini punya pemikiran kalau di dunia ini, pola yang umum dipakai manusia untuk melakukan kegiatan/aktivitas itu seperti ini : What > How > Why.  Mereka tahu apa yang akan dikerjakan, lalu memikirkan bagaimana caranya, lalu merespon hasilnya. Di luaran sana organisasi-organisasi besar/ perusahaan besar/ pemimpin besar itu justru bukan memakai pola yang umum dipakai orang. Mereka justru membalikkannya. Itu yang sering disebut ‘out of the box’. Ide si Simon ini justru bukan tentang box. Tapi circle. The Golden Circle.

image

Di presentasinya di TedTalks, dia membahas soal Apple. Perusahaan komputer yang dulunya biasa saja sekarang jadi trend setter. 

Begini cara kerja apple:
1. Why : “Kami mau buat sesuatu yang berbeda. Tidak mengikuti pola yang sudah ada di pasaran”

2. How : “Kami buat produk yang desainnya minimalis, indah, dan mudah digunakan”

3. What : “Kami buat komputer. Macbook.”

Akan berbeda jadinya jika Apple mikir kayak gini:


1. What : “Gua mau bikin komputer canggih”

2. How : “Gua bikin desainnya keren, minimalis, dan mudah digunakan”

3. Why : “Ya biar beda sama produk yang udah ada kan orang-orang pasti bosen”


'Why' itu ideologinya. Lalu Apple membuat orang-orang sepaham dengan mereka. Maka dari itu, Apple — yang notabene perusahaan komputer — walaupun mengeluarkan telepon seluler (iPhone), mp3 (iPod),dll, orang tetap membeli produk lainnya itu karena sudah merasa nyaman dengan ideologinya Apple. Orang-orang yang sepaham ini akan tetap membeli produk Apple meskipun para pesaingnya membuat produk serupa dengan harga yang lebih murah, fitur serupa, dan kapasitas lebih besar.

Tujuannya bukan mencari orang yang BUTUH sesuatu yang kita MILIKI, tapi mendapatkan orang-orang yang PERCAYA apa yang kita PERCAYAI.

***

Saya pikir ini salah satu faktor mengapa acara kampus jarang ada pengunjung, mengapa kepanitiaan tertentu tidak solid, mengapa pemilu banyak yang golput, mengapa masyarakat kini hidup sendiri-sendiri. Mungkin. Itu hanya opini pribadi.

Saya hanya mencoba menjelaskan sepersekian bagian dari presentasinya om Simon. Saya mau liat dia tanding lawan Lee Chong Wei dulu. Selengkapnya ada di sini.

image

Karena lelaki ingin juga dimengerti

Sesekali, perempuan harus juga mau mengerti laki-laki. Tapi tenang saja, kami tak minta banyak. Hanya meminta untuk tidak memakai pakaian ukuran balita. Sudah tahu kota sedang dingin malah berpakaian seolah kurang bahan. Dan bepergian dengan cara seperti itu bukan malah terlihat menawan, malah (maaf) murahan. Dari mata turun ke syahwat. Itu yg ada di pikiran laki-laki. Begitu kalian dinodai maka kami-lah yang jadi kambing hitam. Kalau kalian ingin dimengerti hatinya, kami ingin dimengerti pikirannya. Itu saja dulu. Berpenampilanlah seolah kalian perhiasan yang tersimpan di gudang bawah tanah. Tantang kami untuk mendapatkannya dengan cara yang benar. Kami tidak tertarik dg etalase murah ditambah diskon.

laninalathifa:

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu.”

Tahapan pendidikan anak menurut Ali bin Abi Thalib (radhiyallaahu ‘anhu):

1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.

2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan. Anak-anak pada kelompok usia ini mulai dapat diberlakukan hak dan kewajiban, dengan konsep reward dan punishment.

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud)

3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

Sir Ken Robinson!

(Source: ted)

Bingung ya milihnya

Pagi tadi, hari saya dimulai dengan keluhan ibu soal pemilu. Nenek juga ikut-ikutan. Katanya bingung pilih siapa. Tidak ada yang dikenal. Atau mungkin, tidak ada calon-calon yang memperhatikan kondisi para orangtua khususnya di pinggiran kota. Ibu dan nenek saya jarang melihat jalan raya yang ditancapi baliho, tiang listrik yang digantungi spanduk, atau jembatan yang dilengkapi muka caleg berkumis. Ibu dan nenek saya hanya dapat kalender yang mirip tampilan profil twitter. Ada cover foto (isinya caleg), dan ada isi (12 bulan, dengan tanggal “9 April” bertinta merah bertuliskan : Jangan lupa pilih : *anu*).

Sekalipun dapat kelender, kami tidak tahu siapa gerangan, latar belakangnya, pendidikannya, pemikirannya, visi misinya, dll. Kami hanya tahu dia dari partai anu nomor sekian dan memakai peci. Saya iseng buka http://dct.kpu.go.id/. Di sana berisi calon-calon rakyat yang mau jadi wakil kami. Sebenarnya mudah untuk mencari daftar calon sementara/tetap. Ada pilihannya. Tapi lagi-lagi para orangtua belum tentu punya akses ke sini. Atau sekalipun dapat akses, malas juga membaca satu persatu. Harus download PDF daftar riwayat hidup pula. Setelah download, akan tahu minimal riwayat hidup si calon. Ada yang mantan menteri negara, ada mantan bupati yan penuh skandal, ada pelawak, ada pemerhati lingkungan, dan yang terlihat seperti preman. Ada yang CV-nya sedikit tapi meyakinkan, ada yang berlembar-lembar tapi meragukan.

Saya tidak tahu apa di sana sudah ada yang membuat ini atau belum. Infografi ini sebenernya untuk pribadi tapi mudah-mudahan bisa juga digunakan untuk semua kalangan.

Mungkin negara ini sudah cukup bosan dengan istilah ‘kalau bukan kita siapa lagi?’. Tapi saya jadi ingat sebuah kalimat dari film yang saya lupa. Saya ubah-ubah dikit susunannya. Kira-kira seperti ini :

Diibaratkan ada sebuah bangsa yang ingin menjajah (lagi) Indonesia. Mereka lalu berkuasa selama beberapa tahun. Lalu terjadi percakapan seperti ini :

"Years from now they’re going to ask us: where were you when I took over your county? We’re gonna say: we stood by and watched.".

Kalau tidak mau itu terjadi, ya jangan buat itu terjadi gara-gara hal sepele : “Gak tau calonnya ah. Males. Mending Golput.”. Cari tau. Jangan manja. Masih muda kok manja.

p.s : Infografi Pemilu (Anggota DPD RI - Wilayah Jawa Barat 2014) High Resolution


(via nevver)

Cari-cari

Manusia ada 2 tipe. Lelaki dan perempuan. Sejatinya berbeda. Pada satu masa, ketika salah satunya mencoba untuk menjadi sama dalam rindu, Siapapun tiada punya daya upaya menghentikannya. Ternyata perkara itu salah. Ternyata, salah satu yang lainnya lah yang bisa menghentikannya. Dalam diamnya. Dalam putaran bola matanya. Dalam derap langkahnya. Jauh jauh terus menjauh sampai akhirnya ke laut sampai akhirnya kami di sini tidak lagi peduli. Tapi kami mau mencari. Katanya, keep searching. It’s worth it.